Sejarah Taman Cari




taman cari

sejarah desa taman cari purbolinngo lampung-timur

 


Desa TAMAN CARI merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Penduduk desa Taman Cari sudah hampir 5000 an.

penduduk desa taman cari sebagian besar merupakan suku pendatang dari jawa yaitu asal YOGYAKARTA.
Namun, Untuk desa tetangga suku nya beragam dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Masih lagi ditambah suku asli dari Sumatera yaitu suku Lampung dan lain-lain. Keragaman inilah yang menjadikan warna desa Taman Cari, Terlihat kompak dalam kegiatan kemasyarakatan.
Marhaban Ya Ramadhan
97% penduduk beragama islam. Di dalam kemasyarakatan desa Taman Cari, Meskipun di dominasi oleh Islam , Namun desa Taman Cari tetaplah menjaga toleransi beragama dan perbedaan pendapat serta perbedaan suku

bagai mana bisa suku pendatang masuk ke lampung timur ?

saat itu,ketika masi Zaman Penjajahan Belanda ERA 1930 an
Datanglah rombongan transmigrasi dari YOGYAKARTA ke sebuah kampung dikawasan pekalongan lampung timur. Saat ini desa itu bernama Rancang Purwo.
Ketika rombongan itu datang yang diprakarsai oleh pemerintah HINDIA BELANDA, Kemudian jadilah perkampungan jawa yang berasal dari YOGYAKARTA. Sebuah desa yang masih alami dipimpin oleh Bapak SUKATMAN, yang saat itu menurut cerita beliau ditunjuk langsung oleh HAMENGKU BUWONO IX. Untuk menjadi pemimpin di kampung tersebut.

Setelah sukses dalam membangun sebuah perkampungan menjadi beberapa desa. Kemudian bapak sukatman di utus dari pihak KERATON YOGYAKARTA untuk membangun desa di taman cari, Yang penduduknya juga didatangkan dari YOGYAKARTA. Menurut sumber berita dari keturunan Bapak sukatman, waktu kedatangan rombongan transmigrasi di desa Taman Cari, Bersamaan dengan rombongan transmigrasi untuk wilayah pring sewu,pesawaran.

HAMENGKU BUWONO IX, Yang meresmikan tempat trasmigrasi daerah pringsewu dan Taman Cari. Saat itu SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO masih muda sekali.

daerah Purbolinggo kala itu diberi nama Batanghari Nur, yang kurang lebih artinya adalah "Cahaya dari Sungai Batanghari". Hingga saat ini saya belum memperoleh informasi yang akurat mengenai siapa sesungguhnya yang memberikan nama tersebut. Batanghari Nur memiliki desa dari A sampai H yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kamitua (Lurah), yaitu Taman Asri, Taman Bogo, Taman Cari, Tambah Dadi, Taman Endah, Taman Fajar, Tegal Gondo dan Toto Harjo. Kala itu Belanda menggunakan Desa Tambah Dadi sebagai Pos Penjagaan, tepatnya di sekitar Perempatan Pasar Tempel desa Tambah Dadi.
Zaman Jepang
Pada zaman Jepang, Batanghari Nur berubah nama menjadi Toyosawah yang artinya dalam bahasa Jawa adalah Air Sawah, karena saat itu kebetulan memang masa transisi JEPANG berusaha merebut kembali, untuk menjajah kembali. Datanglah seorang pemimpin setingkat camat utusan dari pemerintahan JEPANG. Bernama "TOYOSAWA" mungkin diberikan nama itu juga karena dari cara membacanya sudah mirip dengan kata-kata bahasa Jepang, yaitu Toyosawa. Diberikan nama Toyosawah karena pada waktu itu Jepang lah yang membuat rencana pembuatan sungai buatan atau irigasi (yang biasa disebut warga sekitar dengan sebutan ledeng) yang hingga kedudukan Jepang berakhir irigasi tersebut belum sempat dibangun. Yang pada akhirnya irigasi tersebut dapat dibangun pada saat program Pelita pada era Presiden Suharto.
Zaman Kemerdekaan

Menjelang tahun 1949, warga Toyosawah ditimpa wabah penyakit PES atau sampar adalah penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh enterobakteria Yersinia pestis (dinamai dari bakteriolog Perancis A.J.E. Yersin). Penyakit pes disebarkan oleh hewan pengerat (terutama tikus). Yang pada ceritanya apabila warga mengalami gejala di pagi hari maka sore harinya meninggal, jika mengalami gejala di sore hari maka paginya meninggal mengingat ganasnya penyakit tersebut dan Toyosawah belum mempunyai tenaga kesehatan yang cukup seperti saat ini. Karena musibah ini lah warga Toyosawah pada tahun 1949 berinisiatif mengajukan Permohonan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar ada penambahan penduduk di Toyosawah melalui program transmigrasi. Namun setelah lama menanti akhirnya pada tahun 1956 permohonan tersebut baru dapat direalisasi oleh pemerintah, padahal penduduk Toyosawah pada waktu itu sudah tinggal beberapa keluarga saja yang dapat bertahan dari penyakit PES.
Pada tahun 1956 tiba lah para transmigran dari pulau jawa, kali ini tidak hanya dari Yogyakarta saja, melainkan beragam seperti Sunda, Kebumen, Solo, banyumas, dll. Bahkan hingga saat ini masih ada blok-blok yang mengatas namakan daerah mereka masing-masing sebelum transmigrasi ke Lampung seperti Tegal Yoso Solo, Tegal Yoso Kebumen, Tanjung Inten Banyumas, Tambah Dadi Pacitan, dll.
Setibanya para Transmigran angkatan 1956 ke Toyosawah, mulai dibuka lah hutan-hutan untuk memperluas wilayah pemukiman, yang tadinya dari A sampai H, kini mulai ditambah beberapa desa diantaranya Tanjung Intan, Tegal Joso (Sekarang Tegal Yoso), Tanjung Kesuma, Tambah Luhur, Toto Mulyo, Taman Negeri, Tegal Ombo, Toto Projo, Tanjung Qencono, Tambah Subur dan Tanjung Tirto.
Atas kebahagiaan warga Purbolinggo angkatan 1936 atas kehadiran warga Baru pada tahun 1956, maka nama Toyosawah pun diganti dengan nama Probolinggo yang merupakan gabungan dari kata Probo dan Linggo, kalau tidak salah artinya adalah "berkumpul kembali". Dari hari ke hari nama itu berubah dari Probolinggo menjadi Purbolinggo.
Fakta Menarik
1. Anak Buah Pak Harto di Purbolinggo
Ada fakta menarik dari salah satu warga Purbolinggo, beliau adalah pejuang Kemerdekaan yang mungkin sudah terlupakan oleh anak cucunya. Nama beliau adalah Ahmad Subari, beliau adalah eks Tentara Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang dari Daidan Batalyon Dai Ni Daidan Bantul, Yogyakarta. Setelah PETA dibubarkan karena Jepang menyerah kepada Sekutu, pak Ahmad Subari bergerilya di bawah pimpinan Letkol Soeharto (Mantan Presiden Republik Indonesia) termasuk pada saat Serangan Umum 1949 kabarnya beliau juga turut serta dalam peristiwa itu. Pada saat bergerilya, Pak Ahmad Subari adalah termasuk dalam regu pimpinan Letkol Soeharto yang terdiri dari delapan anggota. Saat ini pak Ahmad Subari tinggal di Desa Taman Cari (dekat makam pahlawan). Sebagai Veteran beliau pernah mendapat undangan untuk tinggal dan hidup secara layak di Jakarta, namun beliau menolak dengan alasan yang hingga saat ini belum penulis ketahui. Terakhir penulis bertemu dengan beliau pendengarannya sudah mulai berkurang jadi sudah agak sulit untuk berkomunikasi.
2. Sejarah Makam Pahlawan
sekelumit saja, Inti dari makam pahlawan adalah 6 orang yang dianggap pahlawan adalah bukan tentara yang memanggul senjata kemudian tewas karena perang. Mereka adalah Bapak SUKATMAN beserta perangkat desa serta 1 tentara dan warga sipil.
3. Sumber Sejarah
Sebagian besar sejarah Purbolinggo ini penulis dapat dari wawancara langsung dari berbagai narasumber.

 


TAMAN CARI